Babad Keladian | Aryanglurah Kaba-Kaba

Tahun 1352

Arya Blog menjadi Raja di Puri Kaba-kaba, wilayah kekuasaannya mulai dari Kaba-kaba Tabanan sampai wilayah pengeragoan - Jembrana.

Selain seorang Raja, beliau juga menjalankan keberahmanaan yang berpegang kepada moto "satya nasti paro dharmo" yang artinya ; Tiada darma yang lebih utama dari pada satya (kejujuran dan kebenaran). Ilmu - ilmu kebrahmanaan ditekuni karna itu beliau sangat dekat lebih dari saudara dengan seorang brahmana yaitu Dang Acarya, tiada lain adalah Bagawantha Puri Kaba-kaba, kini tempat brahmana itu dikenal dengan sebutan Griya Kawisunia kaba-kaba, kekerabatannya sudah menjadi satu kesatuan.

Sebagai seorang Raja beliau tidak pernah melakukan pembrontakan, ajaran Rwa-Bhineda didalaminya untuk menjaga keseimbangan Sekala-Niskala guna tercapainya keharmonisan alam semesta.
Beliau memiliki seorang putra yang kelak akan mengantikannya. Beliau amoring acintya begitu juga Dang Acarya sebagai bagawantha puri amoring acintya kealam swah loka.

Babad Keladian Puri Kaba-Kaba Bali
Persembahyangan bersama di Merajan Kawitan


Tahun 1380

Beliau digantikan oleh putra mahkotanya dengan gelar Aryanglurah Kaba-kaba (pertama). Untuk tetap menjaga kekerabatan Puri Kaba-kaba dengan Griya Kawisunia maka di Merajan Kawitan Puri Kaba-kaba didirikan pelinggih sebagai lingga brahmana, begitu juga di Merajan Kawitan Griya Kawisunia didirikan Candi sebagai simbol keagungan Arya Blog. Begitu hubungan seorang Raja di Puri Kaba-kaba dengan seorang Brahmana secara lahir batin dan tiada pernah mengingkarinya.


Tahun 1460

Aryanglurah Kaba-kaba (pertma) digantikan oleh putra mahkotanya dan bergelar Aryanglurah Kaba-kaba (kedua). Dalam pemerintahannya beliau memiliki dua orang putra masing-masing bernama I Gusti Kladian dan I Gusti Bringkit,


Tahun 1543

beliau menghadiri undangan bersama kedua putranya di Gelgel. Pertemuan agung yang dihadiri para raja dan sanak keluarga serta para mantri beserta rakyatnya. Raja Gelgel Dalem Waturenggong melalui gurunya Danghyang Nirartha memberikan pituah-pituah, raja-raja menjadi pengajeg Bali agar mendirikan pedarman di Besakih, untuk itu Raja Kaba-kaba memberikan sebutan pedarman dengan "Arya Blog"

Babad-Keladian-Kaba-Kaba-Bali
Tapak tilas perjalanan leluhur

Tahun 1580

I Gusti Kladian menggantikan ayahnda bergelar Aryanglurah Kaba-kaba (ketiga) sedangkan I Gusti Bringkit menjadi Griwa raja dan mengambil tempat disebelah utara Puri Kaba-kaba diberi sebutan Jro Ajeng.

Anglurah Kaba-kaba (ketiga) mengambil istri yaitu putri Pangeran Kapal yang bernama I Gusti Ayu Rai,  memiliki lima orang anak masing-masing ; I Gusti Ngurah Nyambu, I Gusti Ngurah Aseman, I Gusti Ngurah Kladian, I Gusti Ayu Rai Arsa dan I Gusti Ayu Oka Wija. Disamping itu Anglurah Kaba-kaba (ketiga) mengambil istri yang kedua bernama Diah Supatni. Saat pernikah ada udangan dari Raja Gelgel maka diutuslah I Gusti Bringkit menghadiri undangan di Gelgel. Dalam pertemuan itu Ida Dalem Gelgel menanyakan ketidak hadiran Aryanglurah Kaba-kaba, disampaikanlah bahwa masih kecuntakan karena baru ambil istri. Kemudian Ida Dalem Gelgel berpesan bila sudah tidak cuntaka agar Aryanglurah Kaba-kaba datang ke Gelgel mengajak istri yang kedua itu. Selanjutnya pesan telah disampaikan dan Aryanglurah Kaba-kaba bersama istrinya yang bernama Diah Supatni menghadap Raja Gelgel.

Betapa bahagianya Dalem Gelgel melihat kedatangan Aryanglurah Kaba-kaba bersama istrinya. Selesai pertemuan dan Aryanglurah kaba-kaba hendak kembali ke Kaba-kaba bersama istrinya namun Dalem Gelgel memohon agar Diah Supatni tinggal sementara di Gelgel, atas permintaan itu Aryanglurah Kaba-kaba merestui dan kembali ke Kaba-kaba sedangkan istrinya masih tinggal di Puri Gelgel. Tidak lama kemudian lebih kurang tiga bulan lamanya, datanglah utusan Ke Puri Kaba-kaba agar Aryanglurah Kaba-kaba datang ke Puri Gelgel. Maka datanglah Aryanglurah Kaba-kaba ke Puri Gelgel bertemu dengan Raja Gelgel, dalam pertemuan tersebut disampaikanlah bahwa Diah Supatni telah hamil dan Raja Gelgel meminta agar jangan dicampuri kehamilannya, selanjutnya Aryanglurah Kaba-kaba kembali ke Puri Kaba-kaba bersama Diah Supatni. Setelah saatnya Diah Supatni melahirkan maka dikirimlah utusan ke Puri Gelgel. Maka datanglah Raja Gelgel ke Puri Kaba-kaba, sesampainya di Puri Kaba-kaba dilihatlah Diah Supatni telah melahirkan seorang Bayi laki-laki, oleh Raja Gelgel diberi nama "I Gusti Tges" dan memohon kepada Aryanglurah Kaba-kaba agar kelak nanti dijadikan Raja di Puri Kaba-kaba. Keadaan seperti itu maka I Gusti Bringkit sangat marah dan tidak lama melakukan menyerang terhadap Aryanglurah Kaba-kaba namun akhirnya I Gusti Bringkit terdesak dan mengungsi ke Desa Nyurang yang selanjutnya desa tersebut disebut Desa Bringkit.

Puri Kaba-Kaba merupakan Pusat Leluhur kami

Putra-putra Aryanglurah Kaba-kaba yang bernama I Gusti Nyambu, I Gusti Aseman, dan I Gusti Kladian, sudah tidak nyaman tinggal di Puri Kaba-kaba maka ketiga putra tersebut sepakat keluar dari Puri Kaba-kaba. Kemudian masing-masing membawa panji-panji dan keris pusaka warisan leluhur, dan mengajak rakyat kesetiaannya, bersama-sama berjalan ke timur laut (kaja kangin) dari Puri Kaba-kaba sampai disuatu tempat, ketiga putra berhenti dan berembug tercetuslah bisama "dimanapun bertemu disitu bersatu yungsung Ida Bathara Arya Blog" sabda telah terucap dan salah satu keris pusaka melekat (pelet) pada pohon, maka disebutlah sumpah pelet, oleh rakyatnya tempat tersebut dibuatkan pura yang disebut "PURA PELET" Kini pura tersebut sudah berubah nama menjadi "PURA CITAK RATENG" . Karena satu keris pusaka pelet di pohon maka I Gusti Aseman membawa keris pusaka tanpa sarung dan I Gusti Nyambu membawa sarungnya. Selanjutnya masing-masing melakukan perjalanan mencari tempat.

I Gusti Nyambu berdiam disebuah pesawahan kemudian desa tersebut disebut Desa Nyambu, dan akhir perjalanannya Sampai di Daerah Abyan Tuwung tempat tersebut siberi nama Jro Aseman dan beliau membangun puri dengan sebutan "Puri Abyan Tuwung" Tabanan.

Perjalanan I Gusti Aseman dengan membawa sarung keris menuju daerah kerobokan yang kemudian tempat tersebut disebut Dusun Aseman Canggu, akhir perjalanan beliau sampai di daerah Abyan Semal Badung, serta mendirikan Puri di AbyanSemal.

Persembahyangan Bersama di Puri Kaba-Kaba Bali
Menghormati jejak Leluhur

Perjalan I Gusti Ngurah Keladian menuju keutara menelusuri hutan dan sampailah di Pradesa Paumahan. Beliau melakukan pertapaan dan mendalami ajaran kebrahmanaan. Beliau memiliki seorang putri yang bernama I Gusti Ayu Denbukit.


Tahun 1680

I Gusti Ayu Denbukit dijadikan istri oleh Raja Buleleng I Gusti Panji Sakti. Tidak lama kemudian I Gusti Kladian merasa terusik dan tidak berkenan melihat cara-cara I Gusti Panji Sakti maka I Gusti Kladian meninggalkan Pradesa Paumahan dan oleh rakyatnya tempat pertapaannya dibuat pelinggih pemujaan. Kini tempat pemujaan tersebut dijadikan "PURA DESA GITGIT" Buleleng. Selanjutnya beliau menelusuri hutan dan sampailah di hutan (alas) Basukih ditempat tersebut beliau  membuat tempat pemujaan dan melaksanakan pertapaan, sehingga tempat tersebut disebut dengan alas keladian, dan beliau diberikan gelar "DALEM KLADIAN" . Kemasyuran I Gusti Kladian didengar oleh Dalem Tarukan kemudian Dalem Tarukan memintanya untuk membatu penyerangan terhadap Dalem Gelgel. Isu penyerangan didengar oleh Raja Puri Kaba-kaba yaitu I Gusti Tges yang bergelar Aryanglurah Agung Putra Tges, maka diutuslah I Gusti Bringkit Batharateng untuk menemui I Gusti Kladian dialas Basukih dan menanyakan isu tentang penyerangak Ke Gelgel, bila benar seranglah Puri Kaba-kaba lebih dahulu dan bila tidak benar ajaklah pulang ke Puri Kaba-kaba. Begitulah titah Raja Kaba-kaba kepada utusannya.

Sampailah utusan I Gusti Bringkit Batharateng di alas basukih dan disampaikanlah titah Raja Kaba-kaba itu. I Gusti Kladian mengikuti titah pulang ke Puri Kaba-kaba dengan mengajak satu putranya yang bernama I Gusti Ngurah Ketut Kladian, sedangkan putara yang lainnya meninggalkan alas Keladian masing-masing I Gusti Ngurah Tanggahan Kladian berdiam di Dawan Kelungkung, I Gusti Ngurah Dawan pergi ke Denbukit, dan I Gusti Ngurah Oka tinggal di Talibeng. Dengan kepergian I Gusti Kladian yang bergelar Dalem Kladian maka oleh rakyatnya tempat pemujaan dilestarikan dan diberi sebutan PURA DALEM KELADIAN, begitu juga wilayah tersebut disebut Pradesa Keleadian.

I Gusti Kladian bersama putranya yang bernama I Gusti Ngurah Ketut Kladian tiba di Puri Kaba-kaba Tabanan menghadap raja I Gusti Tges yang bergelar Aryanglurah Agung Putra Tges, disampaikanlah oleh Raja bahwa telah lahir seorang bayi hasil hubungan diluar perkawinan yang diberi nama I Gusti Gunung dan titah raja agar I Gusti Kladian mengangkatnya menjadi anak, sehingga dijadikan adik dari I Gusti Ngurah Ketut Keladian. Selajutnya I Gusti Kladian bersama kedua putranya menuju banjar pasekan dan berdiam ditempat tersebut dan diberi nama Jro Keladian Kaba-kaba Tabanan.


Tahun 1697

Raja Buleleng I Gusti Panji Sakti mengusai wilayah belambangan yaitu Bali Barat negitu juga wilayah belambangan di Jawa Timur dikuasai oleh Pasuruan.


Tahun 1710

Kerajaan Gelgel hancur kemudian I Dewa Agung Jambe membangun kerjaan Semara Pura di Kelungkung dan menjadi Raja Kelungkung pertama  beliau ingin mengembalikan kekuasaan Belambangan. Mulailah dihimpun pasukan maka titah Raja Kaba-kaba kepada I Gusti Kladian untuk ikut dalam pemulihan kekuasaan di Blambangan bersama-sama saudara-saudarnya yang ada di Kerajaan Menguwi. Yang mana permai suri Raja menguwi adalah  kakak I Gusti Kladian yang bernama I Gusti Ayu Oka. Berangkatlah pasukan ke wilayah Blambangan dengan membawa panji-panji kerajaan Mengwi dan I Gusti Kladian meninggalkan kedua putranya di Jro Keladian Kaba-kaba.

I Gusti Kladian diberikan gelar Pungawa Kaba-kaba bersama pasukan Menguwi melakukan penyerangan mulai dari wilayah Blambangan Jawa Timur yaitu wilayah Pasuruan yang diperintah oleh Pangeran Danu Ninggrat. Hal hasil Pangeran Danu Ninggrat menyatakan kesetiaan kepada Raja Bali. Selanjutnya pasukan bergeser ke wilayah Blambangan Bali Barat yang dikuasai oleh raja I Gusti Panji Sakti. Pasukan menelusuri Hutan yang disebut Jimbarwana dan sampailah disuatu tempat yg disebut wilayah Pecangakan, didekat tempat tersebut dibuatlah pesanggrahan yang disebut "Satra". Dengan adanya pasukan menguwi didengarlah oleh Raja I Gusti Panji Sakti dikirimlah pasukan yang dipimpin oleh Ki Tamblang Sampun dan terjadilah peperangan dan perang tanding antara Pangeran Pungawa Kaba-kaba dan Ki Tamblang Sampun akhirnya Ki Tamblang Sampun terbunuh, sehingga tempat terbunuhnya disebut Tamblang dan kini dikenal dengan subak Tamblang begitu juga disebelahnya ada sungai yang airnya deras dan dalam disebut kemudian dengan Tibu Pangeran dan kini disebut-sebut Tibu Mangeran. I Gusti Keladian akhirnya tinggal disebelah Barat dari Tibu Pangeran diberi nama Jro Kladian dan mendirika Pura Keladian sebagai pengayat Ida Bathara Arya Blog dan dijadika pura persatuan sebagaimana "Bisama Pelet".


Tahun 1711

Pasukan  yang membawa panji-panji Kerajaan Menguwi mengakui bahwa mulai dari Pradesa Pengeragoan sampai selat Bali disebut wilayah Jembrana yg diambil dari kata Jimbarwana. Kehidupan semakin berkembang dan sejahtra,


Tahun 1715

Didirikanlah kerajaan Jembrana. Dengan berdirinya kerajaan Jembrana dikirimlah utusan menghadap Raja Menguwi yang bernama I Gusti Agung Putu yang bergelar I Gusti Agung Sakti menyampaikan telah berdiri Kerajaan Jembrana. Dan oleh raja Menguwi dihadiahilah seorang putra dari istri ketiganya yang berasal dari Desa Takmung yang bernama I Gusti Ayu Kaler Pasekan. Putra tersebut bernama I Gusti Alit Taknung untuk dijadikan raja di Jembrana dengan gelar I Gusti Ngurah Jembrana.
Begitu juga pesanggrahan  "satra" yang ada dijadikan "Setra Jembrana" sebagai tempat ditanamnya para pasukan dan keluarganya  yang telah meninggal sebagai wujud persatuan persaudaraan yang tidak akan pernah terpisahkan dan dilestarikan oleh keturunnnya.

Dikisahkan putra I Gusti Keladian yang bernama I Gusti Ngurah Ketut Kladian yang berdian di Jro Kladian Kaba-kaba memiliki seorang istri bernama I Gusti Ayu Tabanan dan memiliki putra I Gusti Dapet, I Gusti Sriman, I Gusti Reok dan I Gusti Ketut Amel. Raja Kaba-kaba I Gusti Ngurag Tges telah mendirikan PURA BATUR sebagai pengayat Ida Bathara Arya Blog dan Ida Bathara Dalem Gelgel dengan wujud dua pelinggih berjajar dengan bentuk yang sama.  Kemudian I Gusti Gunung diberikan tempat tinggal oleh Raja Kaba-kaba  I Gusti Ngurah Tges disebelah selatan Pura batur disebut Jro Gunung  diberikan gelar Arya Pudak,  dijadikan Pemangku di Pura Batur Kaba-kaba Tabanan.


Tahun 1764

Di Blambangan jawa timur diperintah oleh Pangeran Danu Ninggrat yang disebut juga Pangeran Pati menunjukan ketidak setiaanya kepada Raja Menguwi, panggilan tidak diindahkan. Hal tersebut disampaikan Kepada Raja Kaba-kaba  untuk mengirim pasukan ke Blambangan saat itu Raja Menguwi kekeluargaan dan kekerabatannya sangat dekat karana I Gusti Ayu Oka istri Raja Menguwi adalah saudara lain Ibu dengan I Gusti Ngurah Tges. Atas permintaan Raja Menguwi dikirimlah Pasukan ke Blambangan yg dipimpin oleh I Gusti Ketut Kladian dengan membawa panji-panji Kerajan Kaba-kaba. Sedangkan ketiga putranya masing-masing I Gusti Dapet, I Gusti Sriman, I Gusti Reok dikirim ke Jembrana menemui Kakeknya yaitu I Gusti Kladian diantarkan oleh I Gusti Srijati cucu dari I Gusti Aseman. Sedangkan I Gusti Ketut Amel masih tinggal di Jro Keladian Kaba-kaba. Sesampainya di Jembrana berbahagialah I Gusti Keladian menerima kedatangan cucunya yang kelak melanjutkan perjuangannya dan mewariskan Pura Keladian yang kemudian disebut Pura Panti Keladian - Jembrana dan mewariskan pusaka kris. Setelah berapa lama Raja Kaba-kaba I Gusti Ngurah Tges mengutus I Gusti Gunung untuk membawa surat ke Jembrana  yang isinya tentang kebenaran jati diri mebangsa Arya Blog.

Perjalanan I Gusti Ngurah Ketut Kladian memimpin pasukan ke Blamabangan. Sampailah dikerjaan Manik Lingga yang diperintah oleh Pangeran Pati yang disebut juga Mangku Ninggrat. Pertempuran di Blambangan tidak bisa dihindarkan sehingga Pangeran Pati melarikan diri dan penagkapan dapat dilakukan didaerah Probolinggo. I Gusti Ngurah Ketut Kladian disebut I Gusti Ngurah Ketut Kaba-kaba mengutus pasukan untuk membawa Pangeran Pati ke Bali untuk di hadapkan kepada Raja Menguwi, akan tetapi didengarnya Pangeran Pati terbunuh di Pantai Seseh Bali, terjadilah kekosongan pemerintahan di Blambangan. Dengan kekosongan tersebut Raja Menguwi mengakui dan mengangkat I Gusti Ngurah Ketut Kaba-kaba menjadi Raja di Blambangan memegang pucuk pimpinan pemerintahan yang bergelar Bupati Blambangan beristana di Lembahbang Dewa (Rogojampi - Banyuwangi) yang dibantu oleh I Ketut Bedah. Namun disisi lain keluarga Pangeran Pati yaitu Mas Sepuh dan Danu Ninggrat yang dikenal juga Pangeran Mangku Ninggat sangat marah dan dendam. Begitu juga kompeni Belanda tidak mampu merubah pendirian Bupati Blambangan, Beliau sangat dicintai rakyatnya. Kompeni Belanda mulai menggunakan politik adu domba.


Tahun 1767

Komoeni Belada merapatkan kapal perangnya di pelabuhan Kanyar Madura, dan Selat Bali serangan terhadap Blambangan terjadi, peperanganpun tidak terhindarkan, Bupati Blambangan mengirim utusan I Gusti Ketut Bedah untuk minta bantuan Ke Bali, namun tidak bisa menerobos ketatnya penjagaan kompeni Belanda. Akhirnya terjadilah peprangan hebat, rakyat banyak menjadi korban dan I Gusti Ketut Kaba-kaba yang bergelar Bupati Blambangan masuk hutan bergrelia  bersama rakyatnya didalam hutan membuat pesanggarahan bangunan bertiang sembilan begitu juga mendirikan pelinggih tempat pemujaan. Tidak lama kemudian tempat tersebut diketahui oleh Belanda, ada utusan yg memberitahukan Belanda akan menyerang, sehingga tempat tersebut ditinggalkan menelusuri hutanan sampailah disuatu tempat, rakyat beristirahat dan Bupati Blambangan melaksanakan Tapa Brata Semadi dibawah pohon besar, dalam pertapaan tersebut munculah sumber air kemudian disebutnya Sumber Sewu. Beliau bersama rakyatnya membuat peristirahatan. Namun Belanda sudah mencium keberadaan tersebut sehingga pasukan Belada melakukan serangan terjadilah perlawanan, Bupati Blambangan bersupah "Tan Hana Dharma Luwiha Sangkeng Kesatyan" pertemuranpun semakin sengit dan rakyat banyak tewas akhirnya Bupati Blambangan melakukan puputan dan tewas tertembak dalam busana serba putih adat Bali. Akhirnya oleh rakyatnya dikubur dibawah pohon besar yang ada simber air tersebut diberikan gelar "Joyo Kusuma" begitu juga rakyatnya dikubur disekitarnya baik yang beragama hindu maupun yang beragama islam dikubur satu persatu, sehingga ratusan kuburan berjejer ditempat tersebut. Roh dan Jiwatman beliau  I Gusti Ngurah Ketut Keladian yang disebut juga I Gusti Ngurah Ketut Kaba-kaba yang diberikan gelar Bupati Blambangan telah di disucikan dan disemayamkan di Pura Panti Keladian - Jembrana.

Dikisahkan I Gusti Ketut Amel yang berada di Jro Keladian Kaba-kaba meninggalkan Jro Kaba-kaba bersama dengan I Gusti Alit Mustika keturunan I Gusti Ngurah Tges menuju Pradesa Bajra. I Gusti Ketut Amel bergelar I Gusti Ngurah Bajra. Sehingga Jro Keladian Kaba-kaba menjadi kosong.

3 Responses to "Babad Keladian | Aryanglurah Kaba-Kaba"

  1. Om Swastyastu Jro Penulis....apakah ada dasarnya tertulis dalam piagem Babad Ini ?? atau hanya tutur tinular saja ? Karna tertalu banyak versi yang berbeda

    BalasHapus
  2. Kalau dikatan kosong, sampai sekarang berdiri merajan kawitan I Gusti Ngurah Keladian Br. Pasekan dan masih ada sentana dsana

    BalasHapus
  3. Mohon penjelasan Silsilah dari I Gusti Ngurah Alit Mustika/I Gusti Alit Mustika ini silsilahnya Bagaimana? Dan juga di versi lain (kebanyakan bahkan lebih dari satu) yang bergelar I Gusti Ngurah Bajra itu ya I Gusti Ngurah Alit Mustika. Tetapi disini kenapa bisa I Gusti Ketut Amel yg punya gelar tersebut? Mohon bantuan penjelasannya. Terimakasih.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel