Jajaran Pura dan Sujud Bhakti

Pada abad ke 10, Mpu Kuturan telah berhasil menyatukan sekte-sekte yang ada di Bali dengan Konsep Trimurti. Sehingga dibangunlah tempat suci Pura atau Merajan sebagai tempat pemujaan dan bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau dewa-dewa yang disebut Dewata Nawa Sanga sebagai manifestasinya dan bhakti kehadapan leluhur.

Disamping setiap desa harus memiliki Pura Puseh (stana Dewa Wisnu), Pura Desa (stana Dewa Brahma), Pura Dalem (stana Dewa Siwa) yang disebut dengan Desa Pekraman, juga setiap Pura Kawitan dan merajan didirikan dengan jajaran sebagai berikut.

Dimulai dari Timur Laut (Kaja Kangin) dibuat Padmasana sebagai simbol Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kemudian di sebelah Selatan Padmasana, dibangun Meru atau Gedongan sebagai stana para dewa-dewa atau para leluhur yang sudah suci tidak berwujud laki atau permpuan yang disebut Ardhanareswari.
Pura untuk Sujud Bhakti
Kemudian di sebelah selatan Meru dibangun pelinggih Rong Tiga yang berstana Trimurti yaitu,
  1. Brahma (pencipta) berada di sebelah kanan, 
  2. Wisnu (pemelihara) berada di sebalah kiri,
  3. Siwa (pelebur) berada di tengah-tengah.
Dan pada Rong Tiga juga sebagai stana para leluhur :
  1. yang di kanan yaitu bapak,
  2. yang di kiri yaitu ibu
  3. yang di tengah-tengah adalah para leluhur yang telah mendahului yang disebut dengan Bethara Guru.
Dan disebelah selatan Rong Tiga, di buat pelinggih Pengelurah atau Dane Nyoman.

Kemudian yang berjajar dari Padmasana ke barat adalah Pelinggih Rambut Sedana yang berstana adalah Dewi Sri sebagai Dewa Kemakmuran.

Dibarat Rambut Sedana terdapat bangunan pelinggih yang disebut Pesaren sebagai berstana-Nya para Bathara Bethari.

Di sebelah baratnya terdapat bangunan pelinggih yang disebut Taksu.

Orang Hindu Bali dalam menjalankan sujud Bhakti dengan konsep Tri Hita Karana di Pura atau Merajan, dalam sujud bhakti disertai dengan persembahan yang tulus ikhlas seperti mempersembahkan Yadnya berupa buah-buahan, jajan, nasi sudang dan diatasnya berisi canang yang dilengkapi sesari berupa uang disebut dengan Pepranian. Sebagai rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada leluhur. Kemudian disertai dengan Panca Sembah.

Setelah pelaksanaan Panca Sembah (selesai persembahyangan), Peprani yang dihaturkan dilungsur (diparid), selanjutnya di bagikan kepada sesama (Pawongan). Demikian juga Sesari yang terdapat pada Prani di jadikan Punia, untuk menjaga kelestarian, keasrian, keindahan lingkungan (Palemahan) tempat suci Pura atau Merajan.

Penulis : Gusti Muliadnyana

1 Response to "Jajaran Pura dan Sujud Bhakti"

  1. Ditunggu update selanjutnya...
    Bahas lebih lanjut, tiyang mangde uning.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel